PENGELOLAAN SEKOLAH DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH DI MASA PANDEMIK COVID 19

Pandemik Covid 19 pertama kali muncul di kota Wuhan, ibu kota Hubei, Cina pada bulan Desember 2019 dan hanya berselang satu bulan tepatnya pada bulan Januari, virus ini menyebar ke semua provinsi di daratan Cina. Virus ini terus menyebar keberbagai negara termasuk Indonesia. Penyebaran virus di Indonesia sendiri mulai terdeteksi sejak bulan Maret 2020 dan penyebarannya dari hari kehari terus mengalami peningkatan. Pada tanggal 20 Agustus 2020 total kasus yang positif Covid 19 di Indonesia sebanyak 149.000 dan meninggal dunia sebanyak 6.500 jiwa, total kasus yang positif Covid 19 di seluruh dunia sebanyak 22,6 juta dan yang meninggal 792.000 jiwa.

Dampak dari pandemik Covid 19 ini tidak hanya melumpuhkan sektor industri atau pariwisata di Indonesia namun juga melumpuhkan hampir semua bidang termasuk bidang pendidikan atau institusi sekolah. Pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka dialihkan menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan) dalam rangka pencegahan penularan virus Covid 19, sebagaimana diterbitkannya Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 2 Tahun 2020 dan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) tanggal 9 Maret 2020.

Pembelajaran daring merupakan satu-satunya pilihan pembelajaran yang cukup aman di masa pandemik agar siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan meskipun secara umum sekolah belum siap untuk menjalankan atau menerapkan pembelajaran tersebut dengan segala keterbatasan. Pilihan ini tentu saja percepatan yang selaras dengan era industri 4.0 dimana peranan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi sangat dominan.

Setidaknya ada beberapa tahapan yang harus dirancang dalam menyiapkan pembelajaran jarak jauh. Pertama, rancangan kurikulum masa pandemik covid 19. Kurikulum yang diterapkan di masa pandemik Covid 19 tetap tidak lepas dari perkembangan pendidikan anak secara objektif yakni ranah afektif, kognitif dan psikomotorik. Pada  ranah afektif, pembelajaran yang diterapkan di sekolah berupa pembiasaan Islami misal pembiasaan ibadah, adab dan karakter baik lainnya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Pada ranah kognitif, muatan pembelajaran yang diterapkan adalah perpaduan antara muatan umum atau muatan kurikulum dinas seperti pembelajaran tematik, matematika, PJOK, dan bahasa Inggris dan muatan kurikulum khas yaitu pembelajaran Tahsin Tahfid Al Qur’an.

Kedua, rancangan bahan pembelajaran. Sebelum pembelajaran dilaksanakan, guru-guru bersama kurikulum merancang pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan ketercapaian KD baik tematik, mata pelajaran, ataupun muatan khas. Pembelajaran jarak jauh dilakukan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.  Setiap level atau tingkatan dibentuk Musyawarah Guru kelas (MGK) sebagai wadah untuk koordinasi dan merancang pembelajaran secara kolektif. Ketercapaian KD pada masa pandemi ini tentu saja perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi satuan pendidikan sehingga diperlukan peyusunan atau pemetaan KD dalam setiap mata pelajaran yanag akan diajarkan.

Ketiga, rancangan infrastruktur pembelajaran. Dukungan infrastruktur yang mumpuni menjadi faktor penting dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh. Ketersediaan akses internet dan perangkat pendukungnya perlu perencanaan dan persiapan yang baik. Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia, serta peralatan teleconference (apabila diperlukan fasilitas teleconference). Pihak sekolah, guru maupun orang tua harus bersama-sama menyiapkan infrastruktur tersebut. Pihak sekolah memastikan guru dan orang tua support dalam pembelajaran jarak jauh ini.

Tingkat keberhasilan pembelajaran jarak jauh tidak lepas dari tiga komponen yaitu peran kepala sekolah, guru dan orang tua yang saling mendukung dan bekerja sama dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh dengan optimal. Sehebat apapun dan sebagus apapun rancangan pembelajaran yang disusun namun jika tidak ada dukungan dari semua pihak maka rancangan pembelajaran yang disusun pun tidak akan membawa manfaat bagi siswa.

Ada hikmah yang bisa kita ambil dari kondisi PJJ ini yakni secara tidak langsung memaksa guru-guru untuk menghasilkan ide-ide baru yang kreatif dan mampu menghasilkan karya-karya terbaiknya untuk disajikan dalam pembelajaran. Semoga pandemi ini cepat berlalu sehingga siswa dapat bertatap muka menerima pembelajaran langsung dari guru-guru dengan sentuhan kasih sayangnya dan ikatan hati yang penuh cahaya kebaikan.

 

Penulis : Rosadi,S,ST.,M.Ling. (Juara Ketiga Karya Tulis Tingkat Nasional JSIT)